Senin, 21 Januari 2013

BUNGA KRISAN


*    FILOSOFI BUNGA KRISAN
Krisan atau Chrysanthenum berasal dari Asia dan Timur Laut Eropa merupakan salah satu jenis tanaman hias yang telah lama dikenal dan banyak disukai masyarakat serta mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Disamping memiliki keindahan karena keragaman bentuk dan warnanya. bunga krisan juga memiliki kesegaran yang relatif lama dan mudah dirangkai. Keunggulan lain yang dimiliki adalah bahwa pembungaan dan panennya dapat diatur menurut kebutuhan pasar. Terdapat 1000 varietas krisan yang tumbuh di dunia. Beberapa varietas krisan yang dikenal antara lain adalah C. daisy, C. indicum, C. coccineum, C. frustescens, C. maximum, C. hornorum, dan C. parthenium. Varietes krisan yang banyak ditanam di Indonesia umumnya diintroduksi dari luar negeri, terutama dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang.
Menurut Rukmana dan Mulyana (1997), ciri-ciri morfologi tanaman krisan sebagai berikut:
*    Batang
Batang tanaman krisan tumbuk tegak, berstruktur lunak dan berwarna hijau. Bila dibiarkan tumbuh terus, batang menjadi keras (berkayu) dan berwarna hijau kecokelat-cokelatan.
*    Akar
Perakaran tanaman krisan dapat menyebar kesemua arah pada kedalaman 30 cm – 40 cm. akarnya mudah mengalami kerusakan akibat pengaruh lingkungan yang kurang baik, hal tersebut dikarenakan akar tanaman krisan berjenis serabut (Hasim dan Reza, 1995).
*    Bunga
Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun dalam tangkai (tandan) berukuran pendek sampai panjang. Bunga krisan digolongkan dalam dua jenis yaitu jenis spray dan standar. Krisan jenis spray dalam satu tangkai bunga terdapat 10 sampai 20 kumtum bunga berukuran kecil. Sedangkan jenis standar pada satu tangkai bunga hanya terdapat satu kuntum bunga berukuran besar.
                        Selain itu kalangan floriskulturis juga membedakan bentuk  bunga krisan dalam lima macam (golongan), yaitu bentuk tunggal,  anemone, pompon, dekoratif dan bunga besar. Ciri-ciri kelima bentuk bunga krisan tersebut adalah:
1)                  Tunggal
Karakteristik bunga tunggal adalah pada tiap tangkai terdapat 1 kumtum bunga, piringan dasar bunga sempit, dan susunan mahkota bunga hanya satu lapis.
2)                Anemone
Bentuk bunga anemone mirip dengan bunga tunggal, tetapi piringan dasar bunganya lebar dan tebal.
3)                 Pompon
Bentuk bunga bulat seperti bola, mahkota bunga menyebar kesemua arah, dan piringan dasar bunganya tidak tampak.
4)                Dekoratif
Bunga berbentuk bulat seperti pompon, tetapi mahkota bunganya bertumpuk rapat, ditengah pendek dan bagian tepi memanjang.
5)                    Bunga besar
Karakteristiknya adalah pada tiap tangkai terdapat satu kuntum bunga, berukuran besar dengan diameter lebih dari 10 cm. piringan dasar tidak tampak, mahkota bunganya memiliki banyak variasi, antara lain melekuk ke dalam atau ke luar, pipih, panjang, bentuk sendok dan lain-lain.
*    Daun
                        Daun pada tanaman krisan merupakan ciri khas dari tanaman ini. Bentuk daun tanaman krisan yaitu bagian tepi bercelah atau bergerigi, tersusun berselang-seling pada cabang atau batang.
*    Buah dan biji
Buah yang dihasilkan dari proses penyerbukan berisi banyak biji.             Biji digunakan untuk bahan perbanyakan tanaman secara generatif. Biji krisan berukuran kecil dan berwarna cokelat sampai hitam.

Jenis dan varietas tanaman krisan di Indonesia umumnya hibrida berasal dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Krisan yang ditanam di Indonesia adalah:
Ò     Krisan lokal (krisan kuno)
Berasal dari luar negeri, tetapi telah lama dan beradaptasi di Indonesia maka dianggap sebagai krisan lokal. Ciri-ciri krisan lokal antara lain sifat hidupnya berhari netral dan lama siklus hidup antara 7 bulan sampai 12 bulan dalam 1 kali penanaman.
Ò     Krisan introduksi (krisan modern atau krisanida)
Krisan introduksi hidupnya berhari pendek dan siklus hidupnya pun relatif singkat sebagai tanaman annual (musiman).
Ò     Krisan produk Indonesia
Merupakan krisan hasil buatan Indonesia yang dihasilkan oleh balai-balai penelitian yang ada di Indonesia.

*    DESKRIPSI TANAMAN
Tanaman Krisan termasuk ke dalam :
KINGDOM                             : Plantae
DIVISIO                                  : Magnoliophyta
SUB-DIVISIO                         : Magnoliopsida
KELAS                                                : Asterales
ORDO                                     : Asterales
FAMILI (SUKU)                    : Asteraceae
GENUS (MARGA)                : Chrysanthenum
SPECIS (JENIS)                      : Chrysanthemum morifolium

Bunga Krisan terdiri dari banyak specis. Dari banyaknya species inilah kemudian mulai dikembangkan / disilangkan oleh para pemulia,sehingga menghasilkan banyak cultivar yang baru dan hibrida. Dalam penggunaannya krisan di kategorikan dalam tiga jenis, yaitu:
·        Cut mum (krisan potong),
·        Pot mum (krisan pot), dan
·        Garden mum (krisan kebun).

Banyak sekali hibrida dan ribuan kultivar dikembangkan untuk tujuan holtikultura, dan menghasilkan krisan dengan berbagai macam variasi warna. Menurut US National Chrysanthemum Society, Inc , Krisan mekar dibagi 13 bentuk yang berbeda, yang sesuai dengan sistem klasifikasi internasional. Bentuk bunga dibagi berdasarkan bagaimana mahkota disusun:
1.       Irregular Incurve (membengkok tidak rata): raksasa pada dunia krisan. Sering tidak ditunaskan untuk membentuk bunga besar tunggal yang mekar (ogiku),  kelopak bunga tersembunyi, mahkota bunga yang menyembunyikan kelopak bunga juga ada yang bergantung  membentuk “rok’.
2.      Reflex : kelopak bunga disembunyikan, dan mahkota bunga tersusun ke atas dan membentuk penampilan seperti pel.
3.      Regular Incurve (membengkok rata): hampir sama dengan irregular incurves, Similar to the irregular incurves, hanya saja biasanya bentuk mekar lebih kecil dan berbentuk hampir bulat sempurna. Kelopak bunga tersembunyi. Bentuk ini biasa disebut “Chinese”.
4.      Decorative: hampir sama dengan bentuk “reflex” tetapi tanpa penampilan seperti pel. Kelopak bunga tersembunyi dan mahkota bunga biasanya tidak tegak 90 derajat terhadap batang.
5.      Intermediate Incurve: bentuk mekar antara Irregular dan Regular incurves baik ukuran dan bentuk. Biasanya memiliki kuntum yang longgar dan lebih luas. Kuntum bunga tersembunyi.
6.      Pompon: *Catatan pengejaan bukan “pompom”. Bunga mekar berganda, ukuran kecil, dan bentuk nyaris bulat sempurna.
7.      Single/Semi-Double: bentuk mekar dengan menunjukkan kelopak bunga, memiliki 1 sampai 7 helai mahkota. Pada umumnya membentuk sudut kurang dari 90 derajat terhadap batang.
8.      Anemone: Kelopak bunga tampak jelas, kadang-kadang terangkat dan dibayangi oleh mahkota.
9.      Spoon: Kelopak bunga terlihat dan mahkota bunga berbentuk spatula panjang.
10.  Quill: kelopak bunga tersembunyi dan mahkota bunga berbentuk seperti pipa.
11.    Spider: Kelopak bunga tersembunyi dan mahkota bunga berbrntuk seperti pipa dengan ujung berduri dan menggantung di sekitar batang.
12.   Brush & Thistle: kelopak bunga terlihat. Mahkota bunga berbentuk seperti tabung dan menutupi seluruh kepala bunga atau sejajar dengan batang
13.   Exotic: Jenis mekar yang bertentangan dengan klasifikasi karena memiliki atribut lebih dari satu dari semua tipe mekar yang ada.
            Menurut Haryani (1995) dalam Rukmana dan Mulyana (1997) menjelaskan secara singkat deskripsi beberapa varietas krisan bunga potong antara lain:
a.       Ellen van Langen
Bentuk bunga tunggal, berwarna putih, diameter bunga 65 mm, dan diameter mata bunga 18 mm.
b.      Gold van Langen
Bentuk bunga tunggal, berwarna kuning emas, diameter bunga 65 mm, dan diameter mata bunga 18 mm.
c.       Paso Doble
Bentuk bunga anemoe, berwarna putih merah, diameter bunga 56 mm, dan diameter mata bunga 30 mm.
d.      Pink Paso Doble
Bentuk bunga anemoe, berwarna putih merah, diameter bunga 70 mm, dan diameter mata bunga 15 mm.
e.       Reagen
Bentuk bunga single, berwarna pink, diameter bunga dan mata bunga 75 mm dan 15 mm.
f.        Salmon Impala
Bentuk bunga single, berwarna pink, diameter bunga dan mata bunga 70 mm dan 15 mm.
g.      Klondike
Bentuk bunga single, berwarna merah, diameter bunga dan mata bunga 65 mm dan 17 mm.
h.      Puma
Bentuk bunga anemoe, berwarna kuning, diameter bunga dan mata bunga 45 mm dan 25 mm.
i.        Yellow Puma
Bentuk bunga anemoe, berwarna kuning, diameter bunga dan mata bunga 45 mm dan 25 mm.
j.        Peach Fiji
Bentuk bunga dekorative, berwarna apricot, diameter bunga dan mata bunga 90 mm dan 20 mm.


*       MORFOLOGI DAN TAKSONOMI
Bunga krisan tumbuh tegak dengan batang yang lunak dan berwarna hijau. Bagian tepi dari daun memiliki celah, bergerigi, dan tersusun dengan berselang seling pada batang. Perakaran menyebar hingga kedalaman 30-40 cm. Berdasarkan jumlah bunga yang dipelihara dalam satu tangkai, bunga krisan dibagi ke dalam dua tipe yaitu tipe standar dan tipe spray. Tipe standar hanya memiliki satu bunga pada satu tangkai dengan ukuran bunga yang lebih besar, 30 sedangkan tipe spray memiliki 10-20 kuntum bunga dalam tiap tangkainya dengan ukuran bunga yang kecil.

*       KULTUR JARINGAN KRISAN DENGAN EKSPLAN NODUS BATANG
            Jenis dan varietas tanaman krisan di Indonesia umumnya hibrida berasal dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Krisan yang ditanam di Indonesia terdiri atas: a) Krisan lokal (krisan kuno) Berasal dari luar negri, tetapi telah lama dan beradaptasi di Indoenesia maka dianggap sebagai krisan lokal. Ciri-cirinya antara lain sifat hidup di hari netral dan siklus hidup antara 7-12 bulan dalam satu kali penanaman. Contoh C. maximum berbunga kuning banyak ditanam di Lembang dan berbunga putih di Cipanas (Cianjur). b) Krisan introduksi (krisan modern atau krisan hibrida) Hidupnya berhari pendek dan bersifat sebagai tanaman annual. Contoh krisan ini adalah C. indicum hybr. Dark Flamingo, C. i.hybr. Dolaroid,C. i. Hybr. Indianapolis (berbunga kuning) Cossa, Clingo, Fleyer (berbunga putih), Alexandra Van Zaal (berbunga merah) dan Pink Pingpong (berbunga pink). c) Krisan produk Indonesia Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas telah melepas varietas krisan buatan Indonesia yaitu varietas Balithi 27.108, 13.97, 27.177, 28.7 dan 30.13A.
            Kegunaan tanaman krisan yang utama adalah sebagai bunga hias. Manfaat lain adalah sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga. Sebagai bunga hias, krisan di Indonesia digunakan sebagai: a) Bunga pot Ditandai dengan sosok tanaman kecil, tingginya 20-40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam di pot, polibag atau wadah lainnya. Contoh krisan mini (diameter bunga kecil) ini adalah varietas Lilac Cindy (bunga warna ping keungu-unguan), Pearl Cindy (putih kemerah-merahan), White Cindy (putih dengan tengahnya putih kehijau-hijauan), Applause (kuning cerah), Yellow Mandalay (semuanya dari Belanda).Krisan introduksi berbunga besar banyak ditanam sebagai bunga pot, terdapat 12 varitas krisan pot di Indonesia, yang terbanyak ditanam adalah varietas Delano (ungu), Rage (merah) dan Time (kuning). b) Bunga potong Ditandai dengan sosok bunga berukuran pendek sampai tinggi, mempunyai tangkai bunga panjang, ukuran bervariasi (kecil, menengah dan besar), umumnya ditanam di lapangan dan hasilnya dapat digunakan sebagai bunga potong. Contoh bunga potong amat banyak antara lain Inga, Improved funshine, Brides, Green peas, Great verhagen, Puma, Reagen, Cheetah, Klondike dll. Daerah sentra produsen krisan antara lain: Cipanas, Cisarua, Sukabumi, Lembang (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), Brastagi (Sumatera Utara).
            Tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terhadap terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah yang curah hujannya tinggi, penanaman dilakukan di dalam bangunan rumah plastik. 2) Untuk pembungaan membutuhkan cahaya yang lebih lama yaitu dengan bantuan cahaya dari lampu TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik adalah tengah malam antara jam 22.30–01.00 dengan lampu 150 watt untuk areal 9 m2 dan lampu dipasang setinggi 1,5 m dari permukaan tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan sampai fase vegetatif (2-8 minggu) untuk mendorong pembentukan bunga. 3) Suhu udara terbaik untukdaerah tropis seperti Indonesia adalah antara 20-26 derajat C. Toleran suhu udara untuk tetap tumbuh adalah 17-30 derajat C. 4) Tanaman krisan membutuhkan kelembaban yang tinggi untuk awal pembentukan akar bibit, setek diperlukan 90-95%. Tanaman muda sampai dewasa antara 70- 80%, diimbangi dengan sirkulasi udara yang memadai. 5) Kadar CO2 di alam sekitar 3000 ppm. Kadar CO2 yang ideal untuk memacu fotosistesa antara 600-900 ppm. Pada pembudidayaan tanaman krisan dalam bangunan tertutup, seperti rumah plastik, greenhouse, dapat ditambahkan CO2, hingga mencapai kadar yang dianjurkan.

*   Langkah-langkah Kultur Jaringan Pada Krisan
            Pengambilan eksplan atau sumber eksplan krisan berupa pucuk dan nodus berasal dari tanaman induk krisan di rumah kaca perbenihan Balithi Segunung dan planlet di laboratorium kultur jaringan Balithi Segunung. Pembuatan Media MS Media yang digunakan untuk tanaman krisan di Balithi Segunung adalah media induksi tunas dan media perbanyakan. Komposisi media yang digunakan untuk induksi tunas adalah½ MS + 0.5 IAA komposisi media yang digunakan untuk perbanyakan adalah½ MS + 0.1 IAA Menyiapkan Eksplan Dalam perbanyakan tanaman secara kultur jaringan eksplan merupakan factor penting penentu keberhasilan. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan sebagai bahan kultur adalah jenis tanaman, bagian tanaman yang digunakan, morfologi permukaan, lingkungan tumbuhnya, kondisi tanaman, dan musim waktu mengambilnya. Umumnya bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan adalah jaringan muda yang sedang aktif karena mempunyai regenerasi yang tinggi.
            Eksplan yang digunakan pada tanaman krisan adalah nodus karena untuk menginduks tunas aksilar. Kultur Aseptik Krisan Sterilisasi Sterilisasi merupakan kegiatan untuk menghilangkan kontaminan organisme yang menempel di permukaan eksplan. Tujuan utama tahap ini adalah mengusahakan kultur yang aseptik dan aksenik. Aksenik berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan, sedangkan aseptic berarti bebas dari mikroorganisme.
*   Langkah-langkah Kultur Jaringan Pada Krisan
            Pengambilan eksplan atau sumber eksplan krisan berupa pucuk dan nodus berasal dari tanaman induk krisan di rumah kaca perbenihan Balithi Segunung dan planlet di laboratorium kultur jaringan Balithi Segunung. Pembuatan Media MS Media yang digunakan untuk tanaman krisan di Balithi Segunung adalah media induksi tunas dan media perbanyakan. Komposisi media yang digunakan untuk induksi tunas adalah½ MS + 0.5 IAA komposisi media yang digunakan untuk perbanyakan adalah½ MS + 0.1 IAA Menyiapkan Eksplan Dalam perbanyakan tanaman secara kultur jaringan eksplan merupakan factor penting penentu keberhasilan. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan sebagai bahan kultur adalah jenis tanaman, bagian tanaman yang digunakan, morfologi permukaan, lingkungan tumbuhnya, kondisi tanaman, dan musim waktu mengambilnya. Umumnya bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan adalah jaringan muda yang sedang aktif karena mempunyai regenerasi yang tinggi.
            Eksplan yang digunakan pada tanaman krisan adalah nodus karena untuk menginduks tunas aksilar. Kultur Aseptik Krisan Sterilisasi Sterilisasi merupakan kegiatan untuk menghilangkan kontaminan organisme yang menempel di permukaan eksplan. Tujuan utama tahap ini adalah mengusahakan kultur yang aseptik dan aksenik. Aksenik berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan, sedangkan aseptic berarti bebas dari mikroorganisme.

*   Pemilihan Dan Penyiapan Tanaman Induk
            Sebelum melakukan kultur jaringan untuk suatu tanaman kegiatan pertama harus dilakukan adalah memilih tanaman induk yang hendak diperbanya. Seleksi untuk mendapatkan klon-klon yang dikehendaki. Klon yang mempunyai sifat beda, unik, stabil dan seragam kemudian dijadikan tanaman induk tunggal dan sebagai tanaman donor (bahan eksplan) untuk perbanyakan secara in vitro. Planlet (tanaman) hasil dari perbanyakan in vitro kemudian diaklimatisasi di rumah kaca. Setelah tanaman beradaptasi dengan lingkungan rumah kaca kemudian diperbanyak untuk keperluan tanaman induk yang akan menghasilkan tanaman produksi.
Penting sekali untuk lingkungan tanamn induk tersebut harus heginis untuk mendapatkan eksplan yang berkualitas dan lebih bersih untuk pembiakan in-vintro.
            Pengerjaannya dilakukan dalam ruang laminar agar terhindar dari kontaminan. Penanamannya dikelompokkan berdasarkan nomor ruas. Setiap botol diisi 5 eksplan dan diulang empat kali. Botol kultur selanjutnya diinkubasi dalam ruang pertumbuhan dengan pencahayaan 16 jam di bawah lampu fluoresen 40 watt, suhu 24-26 oC, dan kelembapan 60-80% hingga eksplan tumbuh menjadi planlet (tanaman hasil kultur jaringan yang telah lengkap memiliki bagian-bagian tanaman yang meliputi akar, batang, dan daun)

*   Cara Sterilisasi Untuk Tanaman Krisan
1.       Mengambil eksplan yang telah diseleksi berdasarkan ketahanan vigor, hama penyakit, dan jumlah daun 4 - 5 helai atau 3 - 4 nodus.
2.      Memotong eksplan per nodus dengan mengurangi atau memotong sebagian helai daun.
3.      Eksplan direndam dalam larutan Benlatte dan Bactomicyn (fungisida dan bakterisida), masing-masing sebanyak 1 g/300 ml aquades sambil dikocok-jocok selama 30 menit.
4.      Membilas eksplan dengan air aquadest sebanyak 4 - 5 kali.
5.      Selanjutnya eksplan dibawa ke laminar.
6.      Eksplan dimasukkan ke dalam larutan tween 2 tetes/100 ml aquades sambil dikocok-kocok selama 5 menit.
7.      Eksplan dimasukkan ke dalam larutan Chlorox 0.5 % selama 5 menit sambil dikocok-kocok.
8.      Selanjutnya eksplan dimasukkan ke dalam larutan Chlorox 1 % selama 3 menit sambil dikocok-kocok.
9.      Eksplan dibilas dengan air destilasi sebanyak 5 - 6 kali.

*   Penanaman Eksplan Kegiatan dan Media Tanam
          Penanaman eksplan ke dalam botol kultur disebut dengan inokulasi. Kegiatan ini dilakukan setelah eksplan disterilisasi, diawali dengan memotong bagian permukaan eksplan. Selanjutnya eksplan berupa nodus ditanam sebanyak dua buah dalam media ½ MS + IAA 0.5 mg/l, sedangkan eksplan berupa pucuk tidak perlu ditanam, cukup diletakkan saja pada media yang sama sebanyak 3 buah. Sebelum ditutup dengan plastik wrap, plastik transparan, dan karet, botol media yang telah ditanami terlebih dahulu dipanaskan di atas api bunsen. Selanjutnya botol diberi label jenis tanaman dan tanggal penanaman. Eksplan yang telah dikulturkan dibawa ke ruang inkubasi dan dibiarkan sampai tumbuh.

*   Multiplikasi
            Cutting atau Multipikasi bertujuan untuk memperbanyak propagul sedangkan, Sub kultur adalah usaha untuk menggantikan media dalam kultur jaringan dengan media yang baru, sehingga kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan kalus dapat terpenuhi. Berikut ini adalah uraian tentang teknik pelaksaan sub kultur pada media padat. Dari media pertama, kultur dipindahkan ke media regerasi selama sekitar tiga minggu. Setelah itu, apabila kita bertujuan untuk memperbanyak propagul atau multifikasi, maka kita lakukan pemindahan media baru dan apabila tanamannya berbatang maka kita lakukan stek/ cutting contohnya pada tanaman krisan kita perbanyak dengan cara memotong perbuku. Atau per dua buku tergantung titik tumbuh daun, yang akan menjadi cabang baru.
Namun biasanya cuttig krisan dilakukan stelah tanamn tumbuh sempurna dan besar. Hal ini untuk memeudahkan perbanyakan, sehingga dapat memeprbanyak tanpa batas.
            Tunas-tunas hasil perbanyakan di laboratorium kultur jaringan diseleksi untuk memperoleh tunas yang pertumbuhannya sehat, vigor baik, dan tidak menunjukkan gejala penyimpangan. Tunas terpilih kemudian dikeluarkan dari botol secara hati-hati dengan menggunakan pisau skalpel, kemudian dipotong tiap ruas/buku dari ruas 1 sampai 4. Pemotongan dilakukan di dalam petridis menggunakan pisau kultur. Bagian tanaman yang digunakan adalah pucuk atau ruas 1, 2, 3, dan 4. dan stelah itu dimasukan kedalam media sub kultur dengan media ½ MS + 0.5 IAA.Pembentukan akar umumnya dimulai dengan pemindahan indol acetic acid (IAA) yang diproduksi pucuk tanaman ke bagian batang yang luka untuk menstimulasi pembentukan akar (Brenner et al. 1987).
Setelah pomotongan, umumnya setek tidak sensitif terhadap hormon. Pada fase ini terjadi dediferensiasi, sel-sel menjadi kompeten dan responsif terhadap hormon. Setelah itu sel-sel aktif membelah (bersifat meristematik) diikuti dengan pembentukan primordia akar, pembentukan akar hingga akar tumbuh dan berkembang (De Klerk et al. 1999). Auksin umumnya berperan penting dalam inisiasi pembentukan akar. Peran auksin akan optimal bila faktor lingkungan juga optimal.
*   Aklimatisasi
            Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.
            Perubahan kondisi lingkungan yang drastis, dari lingkungan terkontrol ke tidak terkontrol, dari suhu relatif stabil ke suhu lingkungan yang fluktuatif, dari kelembapan tinggi ke rendah dan fluktuatif, dan dari cahaya rendah ke cahaya tinggi pada umumnya menyebabkan tanaman mudah mengalami cekaman atau stres, kehilangan air, layu, dan mati Oleh karena itu, proses aklimatisasi perlu dilakukan secara bertahap, seperti yang diterapkan Winarto (2002) pada anyelir. Aklimatisasi akan membantu tanaman beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya.
Metode aklimatisasi dibagi menjadi 2, yaitu metode langsung (direct) dan metode tidak langsung (indirect).
©     Metode langsung:
1.Menyiapkan planlet dalam botol yang akan diaklimatisasi dan mengeluarkan planlet secara hati-hati dari dalam botol.
2.Membersihkan akar tanaman dari agar-agar yang masih melekat dengan air.
3.Merendam akar tanaman dalam larutan fungisida dan bakterisida selama 5 menit.
4.Menanam tanaman pada bak media arang sekam yang telah dibasahi.
5.Tutup bak dengan plastik transparan selam 1 - 2 minggu.
6.Setelah 1 -2 minggu plastik dibuka dan tanaman dibiarkan tumbuh dan berkembang dalam bak aklimatisasi hingga minggu ketiga sampai keempat.
7.Selanjutnya tanaman dipindahkan ke dalam polibag-polibag kecil sampai siap untuk di tanam di lapang.

©     Metode tidak langsung:
1.       Menyiapkan planlet dalam botol yang akan diaklimatisasi dan mengeluarkan planlet secara hati-hati dari dalam botol.
2.      Memotong tanaman tepat pada bagian bawah nodus ketiga kemudian merendamnya dalam larutan fungisida dan bakterisida selama 5 menit.
3.      Menanam tanaman pada bak media arang sekam yang telah dibasahi.
4.      Tutup bak dengan plastik transparan selam 1 - 2 minggu. Aklimatisasi Planlet di Rumah Kaca Aklimatisasi merupakan tahap penting dalam proses kultur jaringan. Tahap ini sering kali menjadi titik kritis dalam aplikasi teknik kultur jaringan. Aklimatisasi diperlukan karena tanaman hasil kultur jaringan umumnya memiliki lapisan lilin tipis dan belum berkembang dengan baik, sel-sel dalam palisade belum berkembang maksimal, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang berkembang, dan stomata sering kali tidak berfungsi, yaitu tidak dapat menutup pada saat penguapan tinggi.
*   Kultur jaringan Krisan Denan Eksplan Mata Tunas

            Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk merangsang jaringan-jaringan biji (generatif), serta jaringan-jaringan batang, daun, tunas, dan akar (vegetatif) dengan menempatkan jaringan-jaringan tersebut dalam media semai khusus yang berupa padatan atau cairan yang sudah disterilkan sehingga terbebas dari mikroorganisme. Kultur jaringan lebih efektif digunakan untuk pembibitan vegetatif.

            Adapun tahapan-tahapan untuk mendapatkan bibit bunga krisan dengan menggunakan kultur jaringan, antara lain:

a) Menyeleksi induk krisan
            Pertama menyeleksi induk krisan agar mendapatkan induk yang berkualitas, sehingga bibit yang dihasilkan berkualitas pula. Ciri­ induk krisan yang berkualitas adalah pertumbuhan bunganya cepat, memiliki produktivitas bunga yang cukup tinggi, tidak terserang hama dan penyakit (dalam kondisi sehat), serta memiliki banyak mata tunas.

b) Pengambilan mata tunas
            Proses selanjutnya potong mata tunas dengan suet yang steril, kemudian mata tunas tersebut direndam selama 10 menit dalam Sublimat 0,04 % HgCL. Jika telah selesai, bilas mata tunas tersebut dengan air suling yang steril.

c) Eksplan (penempatan mata tunas) pada medium padat
            Sebelum mata tunas ditempatkan pada medium, perlu adanya persiapan untuk membuat medium tersebut. Medium yang diperlukan adalah medium MS padat yang dicampurkan dengan 150 ml air kelapa per liter, 1,5 mg kinetin per liter, dan 0,5 mg NAA per liter di dalam sebuah wadah yang steril, biasanya wadah yang digunakan adalah botol. Setelah medium dibuat, kemudian masukan mata tunas tadi ke dalam medium tersebut (botol). Mata tunas mulai berakar setelah 26 hari ditempatkan di medium dan mulai tumbuh tunas setelah 3 hari tumbuh akar.

d) Penyemaian bibit
            Proses selanjutnya bibit dipindahkan di medium penyemaian yang berupa pasir yang sudah steril (setelah mata tunas sudah berakar dan bertunas di dalam medium), dengan kedalaman tanam disesuaikan dengan ukuran bibit. Setelah ditanam, kemudian ditutup dengan plastik bening agar mendapatkan cahaya lampu dan tempatkan di tempat yang terbebas dari mikroorganisme (aseptik). Buka penutup plastik bening pada sore dan malam hari sekitar 1-2 hari sebelum bibit dipindahkan ke kebun.

e) Penanaman bibit di kebun
            Bibit krisan dapat dipindahkan di kebun ketika sudah tumbuh dengan ketinggian kurang Iebih 9 cm dan memiliki daun beberapa helai.

            Banyak masyarakat menjadikan pembudidayaan Bunga Krisan sebagai agrobisnis karena jumlah permintaan pasar yang sangat besar, sehingga dapat dijadikan ladang usaha yang bagus. Adapula beberapa orang yang menekuni pembudidayaan bunga krisan sebagai kegiatan penyaluran hobi.
Bagi pemula yang berniat untuk membudidayakan bunga krisan, hal yang perlu diperhatikan bagaimana dapat memperoleh bibit bunga krisan. Bibit bunga krisan dapat berupa biji yang banyak diperjualbelikan di toko-toko bunga hias/ toko pertanian bunga. Bibit bunga krisan dapat juga diperoleh dari stek batang bunga krisan. Stek batang memiliki beberapa keuntungan dibanding dengan biji, antara lain: pertumbuhannya dan pembungaannya lebih cepat, mudah dilakukan.
Krisan dapat tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian tempatdiatas permukaan laut sekitar 700- 1200 m. dan dapat tumbuh jugahampir semua tanah, dengan persyaratan mengandung banyak haradalam tanah itu. sedangkan derajat keasaman (pH) yang baik untuk tanaman krisan adalah 5,5-6,5 dengan kelembaban 900C,  95% pada awal pertumbuhan akar dan 70-85% pada tanaman dewasa. Pada fasevegetatif, krisan membutuhkan kisaran suhu optimal 220– 280C pada siang hari dan tidak melebihi 260 C pada malam hari. Sedangkan untuk fase generatif adalah 160C- 180 C.
*    TEKNIK BUDIDAYA

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTTS9b3boCGukrg8XX0Lp78BTeSEbpQvMe_hkMNkFD4996JKIhAjQ
Krisan dapat diperbanyak secara vegetatif maupun secara generatif. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan stek pucuk, sedangkan perbanyakan secara generatif dilakukan dengan biji.Stek yang telah diambil dari tanaman induk terlebih dahulu diakarkan pada tempat pengakaran dalam kondisi haripanjang (pemberian lampu selama 4 jam pada malam hari). Setelah 14-20 hari dari tempat pengakaran stek sudah dapat ditanam diareal tanamatau pot. Untuk membudidayakan krisan potong diperlukan rumahlindung, berupa rumah plastik yang bertujuan untuk menghindaritanaman dari curahan hujan secara langsung, yang dapat memicuserangan hama dan penyakit dan kerusakan fisik oleh air hujan
Selesai penanaman dilanjutkan dengan penyiraman tanaman,yang disesuaikan dengan kondisi tanah. Penyiraman harus merata dansampai basah penuh, dilakukan pagi dan sore hari.
.
*   Macam macam budi daya bunga krisan
*    Stek

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSMHIr-XBE2nOiIsPRfIiWRcHqj7uhuydpHhG13apA-DweY6cpNhttp://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRGJcTHHrIu4bxdqEvdxef2FA35WUPUbRA994KJEJyFg0Y2v85wbw

            Langkah-langkah untuk membuat bibit bunga krisan dari stek batang, yang pertama adalah mempersiapkan alat dan bahan. Alatnya antara lain: nampan plasik yang memiliki ukuran 30 x 20 x 3 cm, sekop kecil, pisau tajam/ cutter, sprayer. Bahannya antara lain; tanah, tumbuhan bunga krisan yang telah dewasa, , hormon perangsang akar (rootone), pupuk kandang, pupuk kompos, dan air. Langkah kedua adalah membuat media tanamnya. Tanah, pupuk kandang, pupuk kompos dicampur secara dengan perbandingan 1:1:1 dan diletakkan di nampan lalu diratakan. Buat lubang di media tanam dengan jarak 2 cm. Semprot dengan air menggunakan sprayer agar tanah menjadi lembab. Langkah ketiga yaitu memotong batang bunga krisan dengan ukuran 6-8 cm menggunakan pisau atau cutter yang tajam, lalu olesi dengan rootone, kemudian tanam ke media tanam yang telah disiapkan. Bibit yang telah ditanam diletakkan pada tempat yang teduh atau tidak terkena cahaya matahari langsung.

      Media tumbuh perakaran stek.
1.       Agar pertumbuhan akar stek tidak terhambat, pilihlah media untuk perakaran stek yang mempunyai sifat menahan air yang tinggi, antara lain : arang sekam, sekam, atau pasir.
2.      Sterilkan dengan uap panas 800c selama 4 jam dan kering anginkan selama 2 hari.
3.      Letakkan media tersebut pada bak-bak pengakaran yang lebamya 80 cm dan ratakan. Kemudian basahilah dengan air atau gunakan larutan pestisida dosis rendah untuk mencegah serangan penyakit pada stek selama proses pengakaran.
4.      Ambil pucuk tunas aksiler dari tanaman induk yang sehat dan tumbuh optimal serta mempunyai 5 - 7 daun sempurna. Agar kualitas stek yang dihasilkan terjaga, pengambilan stek sebaiknya dari tanaman induk untuk produksi stek bukan tanaman produksi bunga.
5.      Potonglah tunas tersebut dengan menggunakan pisau yang steril. Sisakan 2 - 3 daun pada batang tanaman induk. Kemudian letakkan pada wadah, semprot dengan larutan fungisida dan bakterisida. - Celupkan pangkal tangkai stek pucuk tersebut pada zat pengatur tumbuh, tancapkan pada media pengakaran stek.
6.      Setelah +14 hari, cabutlah stek pucuk tersebut secara perlahan-lahan supaya akar tidak rusak dan stek pucuk siap ditanam dirumah lindung.
Selama pemeliharaan, penyiraman menggunakan sprayer dilakukan sebanyak dua kali yaitu siang hari dan sore hari. Dalam 2 minggu, bibit akan tumbuh secara normal, dan akan mengalami pembungaan sekitar 4 minggu setelah dewasa. Untuk merangsang pembungaan dapat diberi pupuk yang mengandung banyak kalium dan juga dapat dirangsang dengan penyinaran rutin pada malam hari. Setelah bunga mengeluarkan kuncup, bunga krisan dapat dipasarkan.

*    Hidroponik

      http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcStSA24E4ZZR6oqjXftnJWfYAx1eBsoY-Z4MPLOH638AS-K2Skq           http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTALsHQAeFwy9f-55StjidWcAdqrC9QNjfLwlbcimMsqzyZ1eIx

            Teknik hidroponik yaitu suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, melainkan dengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lain-lain sebagai pengganti media tanah.
            Dalam hidroponik tidak lagi digunakan tanah, hanya dibutuhkan air yang ditambah dengan nutrien atau pupuk sebagai sumber makanan bagi tanaman. Media untuk tanaman hidroponik bermacam-macam, antara lain, arang sekam, pasir, zeolit, gambut, dan sabut kelapa. Masing-masing medium memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya. Irigasi atau pengairan sangat penting dalam pertumbuhan tanamanam. Secara garis besar, irigasi dalam sistem hidroponik dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sistem air menggenang dan sistem air mengalir. Dalam sistem air menggenang, air atau larutan yang diberikan ditampung dalam wadah atau pot sehingga tergenang. Sedangkan pada sistem air mengalir, air dialirkan terus-menerus sehingga tidak ada yang tergenang.
            Sistem penanaman krisan secara hidroponik memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sistem penanaman di tanah, antara lain:
(1) dapat dilakukan pada lahan sempit;
(2) dapat dilakukan pada berbagai kondisi lahan;
(3) tanaman lebih jarang terserang hama dan penyakit;
(4) pertumbuhan tanaman dapat lebih terkontrol;
(5) hasilnya bersih karena media yang digunakan bukan tanah;
(6) pemberian pupuk lebih efisien dn menghemat penggunaan tenaga kerja;
(7) dapat menghasilkan produk dengan kuantitas dan kualitas yang tinggi sehingga nilai jual lebih tinggi.
Hidroponik sangat cocok dikembangkan  untuk tanaman hias, tetaapi hidroponik juga berkembang untuk  tanaman sayuran dan buah-buahan. Jenis bunga yang dapat dibudidayakan secara hidroponik antara lain krisan, mawar, anggrek berbagai jenis adenium

*    BUDIDAYA KRISAN POT
ü  Langkah langkah
Kesesuaian lahan dan iklim untuk budidaya krisan pot sama dengan kesesuaian lokasi (agroklimat) krisan potong, sehingga paparan berikut ini lebih banyak menjelaskan kepada aspek khusus budidaya krisan pot sebagai berikut.
v  Media Tanam. Pertimbangan khusus dalam menentukan media tanam adalah mudah didapat, harga relatif murah, ringan dan harus memiliki sifat-sifat fisik dan kimia yang bisa mendukung pertumbuhan akar dan serapan hara secara optimal. Sifat fisik yang penting adalah media harus ringan, gembur dan memiliki aerasi cukup baik.
Sedangkan sifat kimianya adalah derajat keasaman media netral dengan pH 5.52-6.7, memiliki Eectric Conductivity (EC) rendah sehingga tidak ada kekhawatiran keracunan unsur tertentu. Bahan yang banyak digunakan adalah serbuk sabut kelapa (cocopeat) dan arang sekam. Gambut memiliki daya pegang air cukup tinggi, dan partikel-partikelnya banyak membentuk gumpalan-gumpalan kecil sehingga membentuk rongga-rongga udara. Untuk mengurangi rongga ini perlu ditambahkan bahan lain yang bisa mengisinya seperti serbuk sabut kelapa dan sekam bakar. Cocopeat memiliki daya pegang air cukup baik dan tidak membentuk gumpalan antar partikelnya sehingga bisa digunakan untuk mengisi rongga. Komposisi media yang baik untuk krisan pot adalah campuran dari gambut (peat), cocopeat dan arang sekam dengan perbandingan volume 4:4:1.
v  Bibit. Tinggi bibit untuk krisan pot tidak boleh lebih dari 5 cm. bibit yang terlalu tinggi menyebabkan pertunasan yang kurang kompak, tunas yang terbentuk berjauhan sehingga bagian bawah tanaman menjadi kurang rimbun.
Jumlah bibit yang ditanam dalam satu pot bisa bervariasi. Untuk ukuran pot 14 -15 cm bisa ditanam 5-6 bibit. Untuk menentukan jumlah bibit yang ditanam dalam satu pot juga             harus mempertimbangkan produktivitas tunas dari jenis yang ditanam. Untuk jenis yang hanya mengeluarkan tunas   sedikit, dibutuhkan jumlah bibit agak banyak, sehingga tanaman pot agak rimbun.
Cara penanamannya satu bibit ditanam cepat ditengah pot dengan posisi tegak lurus, kemudian bibit lainnya ditanam dibagian pinggir pot dengan posisi agak condong keluar agar tunas yang dihasikan menyebar keluar sehingga tanaman pot terlihat lebih besar dan rimbun. Berikut adalah gambar penempatan bibit krisan pot
http://lh4.ggpht.com/_5ueB4m0SlAQ/TAmg2s64XQI/AAAAAAAAAKw/-3NLZn1Q-z8/zrclip_001p2773969b.png?imgmax=720
v  Penyiraman. Penyiraman tanaman pot bisa dilakukan dengan cara manual atau menggunakan alat bantu sistem irigasi. Beberapa pertimbangan dalam menentukan pertimbangan adalah frekuensi penyiraman, kualitas air, penyiraman tidak kena daun, penyiraman dilakukan sekaligus dengan pupuk. Untuk memenuhi persyaratan penyiraman yang baik, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar hasil penyiraman lebih efisien:
·        Sistem rendam. Penyiraman dengan merendam sebagian pot ke dalam air setinggi 5-10 cm, selama beberapa menit, secara kapiler air dan pupuk bergerak dari bagian bawah pot ke permukaan atas media, sistem ini mengandalkan daya kapiler media terhadap air yang akan merambat dari bawah ke atas. Pada fase colouring (fase terakhir perkembangan tanaman krisan pot, saat warna bunga mulai muncul) tanaman harus dipindahkan ke tempat khusus dan sistem pengairannya biasanya menggunakan sistem rendam untuk memudahkan panen.
http://lh3.ggpht.com/_5ueB4m0SlAQ/TAmg9Cp923I/AAAAAAAAAK0/Va1uLNgpcRU/zrclip_002p21175e1c.png?imgmax=800
v  Perendaman Tanaman Krisan.
Sistem drip. Dengan sistem drip (irigasi tetes) setiap pot disambungkan dengan selang yang mempunyai jarum untuk mengatur keluarnya air dan sebagai jalan tetesan air ke media. Dengan menggunakan sistem drip, pemupukan bisa dimasukkan ke dalam alat irigasi. Pupuk yang digunakan harus yang mudah larut ke dalam air agar lubang drip tidak mudah tersumbat dan pupuk lebih mudah diserap oleh tanaman. Biasanya pada fase short day krisan pot dipindahkan ke tempat lain dan sistem pengairannya menggunakan sistem drip
http://lh5.ggpht.com/_5ueB4m0SlAQ/TAmhEz7QuPI/AAAAAAAAAK4/o-nFdXpKhLc/zrclip_003n65ea453a.png?imgmax=800
v  Pemupukan. Pemilihan komposisi pupuk untuk krisan pot dilakukan dengan mempertimbangkan besarnya biaya produksi. Contoh pada tabel adalah komposisi pemupukan krisan pot yang digunakan di PT Kebun Ciputri.

Komposisi Pupuk untuk Larutan Pekat
Jenis pupuk
Jumlah (gram)

Stok A (20 liter)


Ca(NO3)2. 4H2O
2.880

KNO3
1.814

Stok B (20 liter)


KNO3
1.476

MnSO4.4H2O
5,76

ZnSO4.7H2O
0,9288

Borak
7,099

Na2MoO4.2H2O
0,269

MgSo4.7H2O
1.364,6

FeSo4.7H2O
85,76

Kristalon hijau
1.754,4



                        Sumber : Cahyono (1999) dalam Supari (1999).
            Bahan pupuk dapat dibuat dari senyawa kimia lainnya sesuai dengan ketersediaan bahan dipasar dan juga dari harga yang lebih ekonomis. Akan tetapi yang terpenting adalah komposisi dari masing-masing unsurnya.
                        Pada tabel disajikan pedoman untuk komposisi unsur       pupuk.
            . Komposisi Unsur Pupuk dalam 1 liter Larutan Pekat
Unsur
Jumlah (gram)
K
38,86
N-Nos
26,26
N-NH2
1,58
P
3,43
Ca
12,23
Mg
4,08
Mn
0,124
Zn
0,032
B
0,049
Cu
0,0263
Mo
0,0066
Fe
0,489
            Sumber : Cahyono (1999) dalam Supari (1999)
Pengaturan Panjang Hari. Krisan pot memiliki fisiologi sama dengan krisan potong, yaitu memiliki respon terhadap fotoperiodisasi. Lama penyinaran yang tepat untuk iklim Indonesia 14-16 jam sehari, sehingga pada daerah tropis paling tidak tanaman krisan perlu tambahan cahaya selama dua jam dengan intensitas cahaya minimal 40 lux bila menggunakan lampu TL dan 70 lux apabila menggunakan lampu pijar. Pemberian cahaya lampu dilakukan sejak awal tanam sampai tunas lateral yang keluar dari ketiak daun, tumbuh sepanjang 2-3 cm. Bila tunas yang keluar sudah cukup, maka tanaman akan masuk fase short day. Supaya bunga mekar secara serempak, ada penanam krisan pot yang melakukan blackout pada malam hari yaitu menutup tanaman dengan plastik hitam atau kain hitam sedemikian rupa sehingga cahaya dari luar sama sekali tidak mengenai tanaman.
Pinching dan Disbudding. Pinching adalah membuang pucuk terminal dari bibit asal, hal ini dilakukan untuk menghentikan dominasi tunas apikal untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas lateral dari ketiak daun. Dari setiap bibit diharapkan mengeluarkan tuns lateral sebanyak 3-4 tunas produktif, sedangkan tunas-tunas yang kecil atau tidak peroduktif harus dibuang, sehingga kualitas tunas yang dipelihara benar-benar bagus. Pinching (Gambar 5. 4.) dilakukan setelah tanaman memiliki lima daun sempurna, dan yang dibuang adalah tunas diantara daun keempat dan kelima, bila daun pertama dihitung dari bawah. Tanaman yang dipinching telah berumur lebih dari 10-14 hari setelah bibit ditanam. Pinching harus dilakukan tepat waktu. Apabila terlambat maka internode dari bibit akan terlalu panjang, akibatnya jarak antar tunas yang akan tumbuh saling berjauhan. 

http://lh5.ggpht.com/_5ueB4m0SlAQ/TAmhHsr9jPI/AAAAAAAAAK8/fO4uKIeV76o/zrclip_004n7caf23d9.png?imgmax=320
Kegiatan Pinching  Disbudding adalah pembuangan          bakal bunga yang tidak diinginkan sesuai dengan tujuan pembentukan bunga. Disbudding dilakukan setelah bakal             bunga yang tidak diharapkan mulai tumbuh dan siap dibuang tanpa mengganggu bakal bunga yang siap untuk dipelihara.
*   Pemberian Zat pengatur tumbuh (ZPT).
ZPT digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman: merangsang pertumbuhan tanaman atau menekan pertumbuhan tanaman. Pada krisan pot, pemberian ZPT diupayakan untuk merangsang pertumbuhan tunas dan daun sehingga membentuk tanaman menjadi tanaman pot yang kompak, rimbun dan indah. Salah satu ZPT yang biasa digunakan untuk mempercepat pertunasan adalah Hobsanol. Penyemprotan Hobsanol dilakukan setelah pinching dan seminggu setelah aplikasi yang pertama. Untuk menekan pertumbuhan agar krisan pot tidak terlalu tinggi maka digunakan alar atau cultar.

*   Pencahayaan
Untuk mendapatkan bunga yang diharapkan sesuai dengan waktu yangdibutuhkan, maka perlu dilakukan penambahan cahaya pada tanaman.Penambahan cahaya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tanamanakan cahaya matahari, untuk memacu pertumbuhan organ vegetatif.Untuk tujuan bunga potong, maka penambahan cahaya selama 4 jamsejak tanam, sampai umur 1 bulan. Setelah sebulan penambahan cahayadihentikan.Teknik meletakan lampuyaitu dengan mengatur setiaptitik lampu 3 m, dengan asumsi jangkauan setiap titik lampu 1,5m. gunakan lampu pijar 75 wattatau lampu mengandung ultra violet 15 watt. Pengaturan nyala lampuuntuk penyinaran di malam hari, menggunakantimer.Matikan timer setelah tanaman memasuki vase generatif yaitu pada umur tanaman di lapangan 1 bulan dengan tinggi tanaman berkisar 35-45 cm. Jikatinggi tanaman belum tercapai yaitu kurang dari 35-45 cm, maka perluditambah waktu penerangan selama 1 minggu.
*   Pemeliharaan tanaman
Hal pentingyang harus dilakukan adalah pemeliharaan tanaman selama fase siapproduksi. Pada fase ini umur tanaman 1 bulan, perlu dilakukanpenambahan pupuk. Penambahan pupuk disesuaikan keadaan tanaman, jikapertumbuhan baik tidak perlu pemupukan, tapi bila kurang baik disarankan menggunakan pupuk Growmore Pospat tinggi.Jika ada gulma, maka lakukan penyiangan gulma disekitartanaman. Setelah umur 60 hari setelah tanam, harus dilakukan pinching (membuang tunas samping untuk bunga krisan tujuan standart) dan tipesprey lakukan
toping (membuang bunga pertama.

*   Aplikasi Pupuk Susulan
Setelah tanaman memasuki vase generatif, yaitu tanaman telahberumur 30 hari, maka perlu diaplikasikan pupuk NPK dengan dosis 50gram per meter persegi, dengan cara pupuk dimasukkan pada larikanantar barisan tanaman bersih.

*   Pengendalian Hama dan Penyakit
            Kualitas krisan pot sangat ditentukan oleh kesehatan tanaman, sehingga pemeliharaan tanaman mulai dari tanam sampai siap untuk dipasarkan harus dilakukan secara cermat. Untuk mendapatkan kualitas tanaman pot yang prima maka pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara intensif. Adapun hama dan penyakit tanaman yang banyak menyerang krisan pot adalah sama dengan krisan potong yaitu pengorok daun, thrips, aphids, ulat , dan karat putih.

Untuk dapat menanggulangi hama, penyakit dan gulma yang mengganggu tanaman, secara garis besar dapat ditempuh dengan duacara yaitu: dengan cara preventif dan kuratif.
*                Cara preventif, yaitu tindakan yang dilakukan sebelum tanamandiserang hama dan penyakit dan gulma. Diantaranya yaitudengan : a). Pengolahan tanah sempurna, c). Menanam kultivaryang resisten, c). Mendesinfeksi bibit/benih dalam larutan kimiad). Mengadakan rotasi tanam dan e). Menanam tepat waktunya.
*                Cara kuratif, dengan cara biologis, dengan menggunakan musuhalami yaitu predator, parasit dan patogen serangga. Cara kimiayaitu cara pemberantasan hama, penyakit, gulma denganmenggunakan pestisida.Organ penggangu tanaman adalah jamur, bakteri, serangga lave,virus dan gulma. Untuk memberantas jamur menggunakan fungisida,bakteri menggunakan bakterisida, insekta gunakan insektisida.Sementara untuk memberantas virus masih dilakukan dengan carapencabutan kemudian dimusnahkan dan gulma digunakan herbisida. Untuk tanaman krisan hama yang umum menyerang tanaman adalah :
Trip,karat daun(aphid)dan penggorok daun (leaf mainer) yang bila serangan berat dapat digunakan insektisida Confidor/ Agrimec sesuai dosis. Sedangkan penyakit yang sering menyerang padatanaman krisan adalah Karat daun ( Pucinia chrysanthenum), Layubakteri dan Layufusarium, yang dapat dikendalikan dengan fungisidaDaconil/ Dithane, Antracol, Scor sesuai anjuran dan dosis, yangdiaplikasikan 1 kali seminggu.Selain pengendalian secara kimiawi untuk mencegah seranganpenyakit karat perlu dilakukan dengan cara fisik, yaitu denganmembuang/ memangkas daun yang terserang karat dan dibuang ataudibakar diluar areal pertanaman.
Hal hal penting yang harus diperhatikan dalam tahapan pascapanen adalah:
1). Penentuan waktu yang tepat,
2). Teknik panen,
3).Transportasi hasil panen,
4). Penempatan hasilpanen,
5). Sortasi,
6).Packing,
7). Penyimpanan,
8). Transportasi dari kebun ke rumah/ kiosdan
9). Distribusi ke konsumen.
Tahapan-tahapan ini tidak begitu lama,tapi membutuhkan perhatian dan kerja yang teliti, sesuai produk yangdihasilkan.Untuk itu sebelum mengerjakan perlu diketahui sifat dankarakter dari produk yang dihasilkan, dan tujuan pasar yang akan dituju.Karena pengetahuan tentang karakter prouk inilah yang akanmenentukan cara-cara dalam penanganan panen dan pasca panen,sehingga produk yang dihasilkan tetap prima. Dan tujuan pasar jugaharus diketahui untuk penentuan grading dan packing produk tersebut.Jadi tahapan panen dan pasca panen merupakan tahapan penting dari produksi bunga potong, karena meski telah melewatitahapan budidaya yang baik dan benar, tapi penanganan panen danpasca panen tidak baik akan menurunkan nilai jual dari produk yang dihasilkan.

*    TAHAPAN PANEN DAN PASCA PANEN
A. Pemanenan
Pemanenan tanaman krisan pot tentunya dilakukan bersama-sama dengan medianya. Beberapa faktor yang menjadi kriteria kualitas tanaman pot adalah sebagai berikut.
1.       Tajuk. Batang tanaman tidak terlalu tinggi, sekitar 20-25 cm. Bentuk tajuk tumbuh ke samping pot, sehingga bila dilihat dari bagian atas, tanaman memiliki diameter lebih dari 20 cm; semakin lebar diameter tajuk dengan batang yang kuat akan semakin baik.
2.      Daun. Warna daun hijau segar dan bersih dari residu pupuk daun dan pestisida. Bentuk daun normal dan tidak cacat, bebas dari serangan hama penyakit. Daun tumbuh lebat sehingga terlihat rimbun.
3.      Bunga. Warna bunga cerah dan tidak pudar. Semua bunga dalam satu pot tumbuh normal dan bebas hama penyakit. Bunga mekar serempak, kompak, dan tinggi bunga rata.
Waktu panen yang paling baik adalah pada pagi hari, di saat belum terik matahari dan aktivitas asimilasi belum maksimal sehingga saat tersebut performansi bunga masih segar. Bunga yang dipotong pagi hari biasanya lebih tahan lama dan mempunyai umur simpan serta kesegaran yang lebih baik.
Dalam keadaan tertentu, panen bunga juga bisa dilakukan pada sore hari. Akan tetapi bunga yang telah dipotong sebaiknya diperlakukan secara khusus yaitu
Pangkal tangkai bunga harus direndam di dalam air yang dicampur dengan larutan gula, dengan pH air 3 – 5. 9 Pemanenan umumnya dilakukan secara manual, dengan bantuan gunting atau pisau tajam. Bila pisau atau gunting untuk panen bunga tidak tajam, akan mengkibatkan batang yang ditinggalkan memar sehingga jaringannya rusak dan mudah kena penyakit. Gunting atau pisau yang tidak steril juga mempunyai efek mengundang penyakit, maka sterilisasi gunting atau pisau dengan alkohol atau klorin akan lebih baik. Hasil pemanenan bunga tidak boleh diletakkan langsung di tanah, karena kemungkinan akan terkontaminasi dengan organisme pengganggu. Umumnya, pemanenan, grading, dan pengemasan semua dilakukan secara kering, tanpa menggunakan larutan kimia atau air.


Gambar 1. Krisan Siap Panen (umur 3-4 bulan)

B. Pengumpulan Bunga yang Telah Dipotong
Bunga krisan yang telah dipotong langsung dikumpulkan di dalam wadah (tempat bunga) yang sesuai dengan kebutuhan. Tempat bunga tersebut hendaknya diletakkan di suatu tempat yang teduh dan aman (tidak terkena sinar matahari langsung), terhindar dari percikan air atau kotoran lainnya, sehingga bunga terjaga dari kerusakan yang dapat menurunkan kualitas bunga. Bunga hasil panen harus langsung ditempatkan ke dalam ember yang sudah berisi air untuk merendam pangkal tangkai bunga, karena bunga-bunga ini cepat layu bila tidak segera diberi air setelah dipanen.
Gambar 2.
Meja Silang digunakan sebagai tempat meletakkan krisan
setelah dipotong/dipanen
C.  Pengangkutan ke Tempat Sortasi
Setelah selesai dikumpulkan, bunga diangkut ke tempat sortasi untuk disortir dan diseleksi. Pengangkutan bunga harus dilakukan secara hati-hati dan dalam jumlah yang cukup (tidak terlalu banyak), sehingga bunga
terhindar dari resiko kerusakan ataupun patah. Di tempat sortasi, bila waktu untuk melakukan sortir bunga masih lama, sebaiknya pangkal tangkai bunga direndam dulu di dalam bak/ember berisi air bersih agar bunga tidak cepat layu.

Gambar 3.
Proses Pengangkutan Hasil Panen & Perendaman Sementara Sebelum Sortasi
D. S o r t a s i
Bunga hasil panen diletakkan di atas meja, dipisahkan menurut verietas. Bunga diperiksa / diteliti satu persatu untuk melihat keadaan bunganya, tingkat kemekaran bunga, keadaan tangkai bunga yang meliputi panjang- pendeknya, lurusbengkoknya, besar-kecilnya, dan tegarlemasnya (vigor), berat-ringannya, serta kebersihan tanaman. Secara umum, bunga potong krisan dikelompokkan ke dalam beberapa kelas yaitu : Kelas AA, A, B, dan C. Untuk lebih detail dapat dilihat di Lampiran 1. 12
Gambar 4.
Proses Sortasi dan Pengelompokkan Sesuai Varietas & Kelas
E. Pengikatan / Pengelompokan Bunga (Bunching)
Pada umumnya bunga yang telah disortir dilakukan pengikatan / pengelompokan. Bunga yang telah diseleksi dan ditentukan kriteria pengkelasannya, diikat dengan menggunakan tali atau karet menurut aturan jumlahnya. Pengikatan bunga tidak boleh terlalu ketat, karena dapat merusak tangkai bunga, yang mengakibatkan tangkai bunga dapat tertekan atau luka.
Gambar 5.
Proses Pengikatan Hasil Sortasi
F.  Pembungkusan
Setelah diikat sesuai dengan jumlahnya, bunga harus segera dibungkus dengan kertas atau plastik pembungkus. Pembungkusan bertujuan untuk menjaga agar bunga terhindar dari kerusakan sehingga kualitas bunga tetap terjaga. Bunga potong krisan biasanya dibungkus dengan kertas pembungkus bunga yang sudah dibentuk (digunting) melengkung pada salah satu sisi panjangnya, dan dapat membentuk lingkaran yang rata pada sisi bagian atas, sehingga bungkusan bunga terlihat rapi.

Gambar 6.
Proses Pembungkusan
G.  Perendaman dengan Larutan Sebagai Pengawet
Pengawetan bertujuan untuk memperpanjang kesegaran pada bunga potong. Tanpa pengawetan, kehilangan produksi akibat layu dan faktor lainnya bisa mencapai 30%-60%. Larutan pengawet berfungsi untuk memperpanjang umur bunga potong dan mengurangi kerusakan bunga selama penanganan pasca panen, sehingga nilai ekonominya menjadi lebih tinggi. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pengawetan, antara lain:
1. Menambah bahan makanan; seperti glukosa, sukrosa dan galaktosa berfungi untuk membantu proses pemekaran bunga setelah bunga dipotong. Dosis yang disarankan adalah 1%-12% gula per liter air bersih (10- 120 gram gula dalam setiap 1 liter air bersih).
2. Menambah keasaman air; pada pH 3 - 5 bunga dapat menyerap air secara maksimum. Penyerapan air sangat penting untuk menggantikan air yang hilang akibat penguapan. Jika tidak terdapat air maka bunga dan daun akan cepat layu. Untuk keperluan tersebut, dapat digunakan: asam sitrat dengan konsentrasi 200-600 mg/lt air, asam benzoat dengan konsentrasi 200-600 mg/lt air. Asam sitrat dan asam benzoat juga mempunyai sifat antibiotik yang dapat mengurangi perkembangbiakan bakteri. Reid (1992) juga menyatakan bahwa larutan asam dengan pH 3,5 selain mempercepat penyerapan juga dapat menghambat tumbuhnya mikroba, sehingga kesegaran bunga potong dapat dipertahankan.
3. Menambah bahan antibiotik, air yang digunakan untuk merendam tanaman biasanya tidak steril sehingga perlu diberikan antibiotik untuk menghambat perkembangan mikroorganisme. Mikroorganisme seperti bakteri dan fungi akan menyumbat jaringan pada batang sehingga air tidak dapat diserap oleh bunga dan menyebabkan 15 kelayuan. Mikroorganisme juga merupakan salah satu penyebab timbulnya gas ethylene yang dapat menyebabkan pelayuan bunga. Bahan-bahan pengawet yang umum digunakan yaitu Physan-20 (200 ml/liter),  AgNO3 (50 mg/liter), Perak tiosulfat (50-100 mg/liter), dan Sodium hipoklorit (4 ppm).
4. Menambah zat pengawet, digunakan pada perlakuan conditioning, pulsing, pembukaan kuncup dan holding. Secara umum pada jenis bunga tertentu, semakin lama perlakuan maka konsentrasi yang digunakan lebih
 rendah. Oleh karena itu konsentrasi yang tinggi digunakan untuk pulsing, konsentrasi sedang untuk pembukaan kuncup, dan konsentrasi yang rendah untuk larutan holding (Halevy dan Mayak, 1979).
a. Conditioning
Bunga yang layu (akibat penyimpanan kering) dapat direhidrasi (diberi air kembali). Caranya dengan memotong pangkal tangkai bunga sekitar 1-2 cm, kemudian dicelupkan ke dalam air bersih.
b. Pulsing dan Holding Solution
Pulsing merupakan perlakuan dalam jangka waktu yang pendek setelah pemanenan, yaitu proses perendaman dalam larutan yang mengandung bahan makanan (glukosa atau sukrosa) dalam jumlah yang tinggi dan antioksidan. Pulsing dapat memperpanjang umur simpan dan kesegaran bunga potong karena untuk melangsungkan hidupnya bunga potong membutuhkan energi. Energi yang dibutuhkan dapat diperoleh dari bahan makanan  yang diberikan pada saat pulsing. Sukrosa atau glukosa adalah bahan utama pada larutan pulsing dengan konsentrasi 1%-12%. Bunga dapat juga direndam pada periode pendek pada temperatur hangat (kira-kira 10 menit pada suhu 21°C) atau periode panjang pada temperatur dingin (kira-kira 20 jam pada 2°C). Perendaman dengan larutan nitrat perak (AgNO3) dalam waktu yang singkat adalah yang paling baik bagi beberapa varietas. Larutan pengawet (holding solution) adalah larutan tempat dicelupkannya tangkai bunga sampai terjual atau larutan yang digunakan oleh konsumenuntuk memperpanjang vaselife bunga. Pada umumnya bahan larutan pengawet merupakan sumber energi, bahan penurun pH, biosida, senyawa anti ethylene dan zat pengatur tumbuh. Menurut Halevy dan Mayak (1979), penambahan gula dan asam sitrat berperan dalam menunda kelayuan. Asam sitrat sering digunakan pada larutan holding dengan konsentrasi 50-800 ppm. Penggunaan gula pada larutan pulsing dan holding akan rawan terhadap serangan mikroorganisme karena merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu, pada larutan holding dan pulsing sering ditambahkan biosida untuk membunuh dan menghalangi perkembangan bakteri dan jamur.
c. Pembukaan Kuncup
Kemekaran kuncup bunga potong krisan dapat dipercepat dengan menggunakan larutan yang mengandung bahan biosida dan gula. Proses ini akan semakin cepat bila didukung dengan kondisi yang memadai yaitu: suhu yang hangat antara 21 - 27°C, kelembaban 60-80% RH, dan intensitas cahaya yang tinggi yakni 100-200 footcandles.
d. Pewarnaan Buatan
Bunga yang berwarna putih dapat dibuat warna warni dengan memberikan pewarna pada bunga. Pewarnaan dilakukan dengan merendam tangkai bunga ke dalam larutan pewarna. Pewarna yang
digunakan adalah pewarna makanan berupa bubuk atau cairan. Cara pembuatan larutan pewarna yaitu:
1) Siapkan pewarna makanan 4 gram, gula 60 gram, dan asam sitrat1 gram,
2) Larutkan pewarna, gula dan asam sitrat dengan air matang / aquades, tepatkan menjadi 1 liter,
4) Aduk larutan sampai semua pewarna, gula dan asam sitrat larut,
5) Larutan pewarna siap digunakan.

             
Gambar 7.
Perendaman dengan Larutan Sebagai Pengawet
H. Penyimpanan
Penyimpanan dikelompokkan menurut tujuan atau perlakuannya. Penyimpanan menurut tujuannya dibedakan dalam dua kategori menurut lamanya waktu penyimpanan, yaitu penyimpanan sementara dan penyimpanan untuk persediaan (stok). Sedangkan penyimpanan menurut perlakuannya dibedakan dalam dua kategori, yaitu penyimpanan basah dan penyimpanan kering. Penyimpanan sementara dilakukan untuk penyimpanan bunga dalam jangka waktu pendek (kurang dari 1 hari) bunga bisa disimpan pada suhu ruang dengan merendam pangkal tangkainya di dalam bak berisi air bersih. Penyimpanan untuk persediaan (stok) dilakukan bila bunga disimpan untuk jangka waktu yang agak lama. Untuk penyimpanan kering, bunga harus disimpan di dalam ruang penyimpanan berpendingin (cold storage) dengan temperatur sekitar 2-10°C dan kelembaban udara tinggi sekitar 90%. Lamanya masa penyimpanan bunga dalam cold storage tergantung dari varietas dan tingkat kemekaran bunga. Pada keadaan kuncup dapat disimpan sampai 15 hari dengan suhu 2-4oC, dan sebelumnya mendapatkan perlakuan larutan pembukaan kuncup. Apabila bunga disimpan terlalu lama, maka bunga akan mengalami kerusakan yang dapat dilihat dari perubahan fisik bunga tersebut berupa layu, lembek, busuk dan warna bunga yang pudar. Penyimpanan basah adalah penyimpanan dengan perlakuan perendaman ujung tangkai bunga ke dalam air, dengan harapan bunga akan terus mendapat suplai air untuk memperpanjang umur simpan dan kesegaran. Penyimpanan basah harus dilakukan bila kelembaban udara di lingkungan penyimpanan rendah. Dengan kelembaban udara yang rendah akan banyak terjadi transpirasi atau penguapan air dari bunga yang telah dipotong, akibatnya bunga akan cepat layu. Dengan demikian harus diupayakan kesediaan air dalam wadah tersebut.

     
Gambar 8.
Proses Penyimpanan ke Dalam Cold Storage
I.   Fumigasi
Fumigasi merupakan perlakuan dengan memberikan gas beracun untuk membunuh hama atau serangga pengganggu. Dalam penanganan pasca panen bunga, fumigasi dilakukan apabila di dalam bunga yang akan dikirim masih terdapat hama yang sulit dihilangkan dengan penyemprotan biasa, tapi hama tersebut belum menimbulkan kerusakan pada bunga. Fumigasi hanya dilakukan apabila bunga tersebut akan diekspor, dan negara tujuan ekspor mengharuskan perlakuan fumigasi ini. Kerugian dari umigasi adalah dapat menurunkan umur simpan dan kesegaran bunga yang difumigasi.
J. Penanganan Eceran
Untuk menjamin kualitas yang maksimum dan menarik minat pembeli, yang terpenting adalah penanganan bunga yang tepat pada saat diterima. Setelah bunga tiba, bunga dipotong pada pangkal batang ± 2 cm dan kemudian bunga ditempatkan segera pada ruang pendingin setelah bungkus dibuka untuk beberapa jam. Jika bunga bersisa di toko beberapa hari, bunga tersebut diletakkan pada ember berisi air dan bahan pengawet.
K. Pengiriman
Bunga yang sudah dibungkus disusun dengan teratur, dan dilakukan secara hati-hati, dimana isi bunga dalam satu kardus atau kontainer tersebut tidak boleh terlalu padat (sesuai dengan kapasitas kardus tersebut), sehingga bunga dapat tersusun rapi dan terjaga kualitasnya. Biasanya dalam satu kardus berukuran  88 x 40 x 40 cm dapat diisi dengan 30-35 bungkus krisan, dimana isi per bungkus 10 tangkai. Pada bidang-bidang yang berukuran 40 x 40 cm diberi lubang-lubang, sebagai tempat pegangan tangan dan juga untuk ventilasi udara di dalam kardus.
Setelah bunga selesai dimasukkan ke dalam kardus, kardus harus ditutup dan dikuatkan dengan menggunakan lakban sampai kardus menjadi rapi. Namun bila menggunakan kontainer plastik, setelah bunga tersusun penuh cukup ditutup dengan kertas koran agar bunga tidak rusak, bila kontainer diletakkan bertumpuk. Kemudian kardus atau kontainer bunga disusun secara rapi (tiga tingkat), sebelum bunga dimasukkan ke dalam mobil pengangkut. Kardus atau kontainer yang berisi bunga disusun secara rapi di dalam mobil boks berpendingin, sehingga dapat diisi secara maksimal sesuai dengan kapasitas mobil tersebut. Pengiriman bunga ke tempat penjualan dilakukan dengan menggunakan mobil boks berpendingin yang mempunyai pengaturan temperatur. Selama perjalanan, temperatur di dalam mobil boks diusahakan rendah dan stabil pada temperatur sekitar 2-10°C, sehingga kesegaran bunga tetap terjaga dan bunga diterima konsumen dalam keadaan baik. Untuk pengiriman jarak jauh dapat dilakukan lewat kargo udara.

                
Gambar 9.
Proses Pengepakan
Setelah sampai di tempat tujuan, kardus atau kontainer plastik tempat bunga diturunkan dari mobil dengan hati-hati agar bunga tidak terkoyak atau rusak. Kemudian kardus atau kontainer bunga diturunkan, bunga dikeluarkan, ujung tangkai bunga dipotong dan dicelupkan sebentar ke ember berisi air hangat, dengan suhu sekitar 30-350 C selama 10 detik, dengan tujuan untuk membuka pori-pori permukaan tangkai bunga, selanjutnya direndam ke dalam air bersih.

             
Gambar 10.
Proses Pengiriman dengan Menggunakan
Mobil Berpendingin


*   Teknik penanganan saat di pedagang retail
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTf9mZ1ZQbBXD79ve3P1Zm92aGxQIb76d3C1flA4TO74-bRV68o
Setelah bunga sampai pada pedagang retail atau pedagangpenjual, sebelum bunga di pajang konsumen dirumah, segerah setelahbunga tiba di kios atau tempat penjualan bunga-bunga ini dilepas darikemasannya, kemudian periksa dari hama dan penyakit serta kerusakanfisik. Bunga yang baik selanjutnya potong sedikit tangkai bunganya dandirendam dalam air hangat sekitar 380C yang agak asam dengan pH 3.0-4.0 untuk beberapa menit. Akan lebih baik pemotongan tangkai dalamair untuk menghindari terjadinya embolisme atau gelembung udaradalam tangkai bunga

*   Formula untuk pengawetan Bunga
            Dipakai untuk penyimpanan lama;
-11 gr asam nitrat
-7 gr (8 ml)HQC Hydroquinoline Citrat atau HQS
-560 gr gula
-38 ltr air dibuat pH 3,5
Larutan sederhana untuk perendaman bunga potong untuk 1liter air :
- 15 gram gula pasir
0,3 gram asam sitrat
-2 cc pemutih pakaianUntuk konversi :
-1 sendok makan gula pasir = 14,5 gram
-1 sendok teh peres asam sitrat = 3 gram
-1 sendok teh air = 5 cc


*    MANFAAT DAN KEGUNAAN BUNGA KRISAN
Kegunaan tanaman krisan yang utama adalah sebagai bunga hias. Manfaat lain adalah sebagai tanaman obat tradisional dan penghasil racun serangga. Sebagai bunga hias, krisan di Indonesia digunakan sebagai:
*      Bunga pot
Ditandai dengan bentuk tanaman kecil, tingginya 20 - 40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam di pot, polibag, atau wadah lainnya. Contoh krisan pot ini adalah varietas Lilac Cindy (bunga warna pink, warna keungu-unguan), Pearl Cindy (putih kemerah-merahan), White Cindy (putih dengan tengahnya putih kehijau-hijauan), Applause (kuning cerah), Yellow Mandalay (semuanya dari belanda).
*      Bunga potong
Ditandai dengan vigor bunga berwarna pendek sampai tinggi, mempunyai tangkai bunga panjang, ukuran bervariasi (kecil, menengah, dan besar), umumnya ditanam di lapangan (kebun) dan hasilnya dapat digunakan sebagai bunga potong. Contohnya antara lain: inga, improved funshine, brides, green peace, great verhagen, kuma, reagen, cheetah, klondike, dan lain-lain.
*      Herminia de Guzman Ladion, seorang kesehatan Filipina memasukkan krisan sebagai salah satu jenis tanaman obat penyembuh ajaib. Jenis penyakit yang dapat diobati dengan tanaman krisan antara lain sakit batuk, nyeri perut oleh angin, dan sakit kepala akibat peradangan rongga sinus.
*      Ramuan (resep) pengobatan tradisional dengan menggunakan tanaman krisan misalnya:

a.    Sakit batuk produktif akibat kongesti dan bronkhitis diobati dengan rebusan 1 mangkuk daun dan bunga krisan (Chrysanthemum indicum) kering dalam 2 gelas air selama 15 menit, kemudian air rebusan tadi diminum. Dosis anjuran adalah setiap jam meminum 1/2 mangkuk (dewasa), 1/4 mangkuk (anak umur 7-12 tahun), 2 sendok makan (anak umur 2-6 tahun), atau satu sendok teh (bayi).

b.    Nyeri perut karena angin yang berlebihan dalam perut dan usus, diobati dengan daun krisan yang dirajang atau ditumbuk, kemudian dicampur dengan minyak kelapa. Ramuan tersebut digosokan pada perut dengan menggunakan kain kebat, lalu dibiarkan selama semalam atau minimal 4 jam.

*      Tanaman penghasil racun serangga alami.

a.    Jenis Chrysanthemum cinerariaefolium VS mengandung zat “pyrethrin” yang amat beracun bagi aneka macam serangga, tetapi tidak merupakan racun bagi hewan berdarah panas.

b.    Zat pyrethrin dapat digunakan antara lain sebagai campuran bahan pembuat obat nyamuk.

*   Krisan jenis Chrysanthemum morifolium atau Chrysanthemum indicum, yang berwarna putih atau kuning bisa dijadikan teh krisan atau Chrysanthemum Tea. Khasiatnya untuk menyembuhkan influenza, jerawat dan mengobati panas dalam dan sakit tenggorokan. Bisa juga digunakan untuk obat demam, mata panas dan berair, pusing-pusing, serta untuk membersihkan liver. Selain itu teh krisan bermanfaat untuk penyembuhan jantung koroner, hiperkolesterol (kolesterol tinggi), mengurangi rasa sakit pada penderita radang hati. Manfaat tersebut didapatkan karena krisan mengandung vitamin C, beta karotene, kalsium, serat, zat besi, kalium, dan magnesium. Adapun cara untuk membuat teh krisan:
*                PEMASARAN
            Permintaan akan bunga krisan semakin meningkat, Bunga krisan tidak hanya diminati konsumen local namun juga sangat diminati di manca Negara. Pada umumnya konsumen lebih menyukai warna merah, putih dan kuning, sebagai warna dasar krisan.
            Peluang inilah yang seharusnya bisa dimanfaatkan dan dikembangkan. Salah satu upaya yang tepat untuk mengembangkan bunga krisan adalah dengan system hidroponik.


*    PENYAKIT BUNGA KRISAN
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT KARAT PUTIH
Penyakit karat putih pada krisan disebabkan oleh cendawan P. horiana (Basidiomycetes). Cendawan ini bersifat parasit obligat atau hanya hidup sebagai parasit pada tanaman hidup. Menurut Suhardi (2009b), patogen penyakit karat putih menghasilkan dua jenis spora, yaitu teliospora yang merupakan spora rihat dan basidiospora yang dihasilkan oleh teliospora yang telah berkecambah. Teliospora berkecambah bila kelembapan udara sangat tinggi (96−100%). Teliospora dapat bertahan selama delapan minggu pada kondisi kelembapan kurang dari 50%. Basidiospora sangat rapuh, mudah disebarkan oleh angin atau percikan air. Apabila kelembapan udara mencapai 80% maka basidiospora akan mati dalam waktu lima menit. Pada kondisi kelembapan 81− 90%, basidiospora dapat bertahan tanpa tanaman inang selama 60 menit. Perkecambahan teliospora membutuhkan suhu 423C (optimum 17C) dan kelembapan > 90%, sedangkan perkecambahan basidiospora berlangsung pada kisaran suhu 1724C (optimum 17C) dan kelembapan > 90% (MacDonald 2001). Proses infeksi membutuhkan waktu 2 jam dan dalam waktu 24 jam sekitar 50% populasi basidiospora sudah menginfeksi tanaman. Gejala penyakit karat muncul 710 hari setelah infeksi pada suhu > 24C dan 8 hari pada suhu 30C (MacDonald 2001). Teliospora berukuran 14,5 μm x 41,5 μm, hialin kuning terang, dan terdiri atas dua sel ramping pada sekatnya (Gambar 1). Teliospora dapat ditemukan pada berbagai stadia pertumbuhan tanaman (Szakuta dan Butrymowicz 2004). Proses infeksi dimulai saat basidiospora berkecambah di atas permukaan daun yang berair. Infeksi biasanya terjadi pada malam sampai pagi hari (suhu 17C), dan berlangsung selama 2 jam.
GEJALA SERANGAN
Pada umumnya gejala penyakit akan timbul apabila terjadi interaksi antara tiga faktor, yaitu patogen yang virulen, inang yang rentan, dan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Hal ini dikenal dengan sebutan segitiga penyakit (Agrios 1988). Perkembangan gejala serangan P. horiana pada daun krisan dimulai dengan munculnya bercak berwarna kuning pada permukaan atas daun, yang kemudian diikuti dengan perubahan warna pusat bercak dari putih menjadi coklat tua. Pada permukaan bawah daun terbentuk pustul yang pada awalnya berwarna merah muda, selanjutnya pustul membesar, berwarna putih, dan akhirnya tanaman mati (Gambar 2). Pustul karat sebenarnya merupakan kumpulan teliospora yang akan berkecambah membentuk basidiospora yang kemudian menginfeksi tanaman (Suhardi 2009a).
PENYEBARAN PENYAKIT
Penyakit karat putih pada krisan pertama kali dilaporkan di Asia Timur dan diidentifikasi pada tahun 1895 oleh P. Henning (Bonde et al. 1995). Sejak tahun 1963, P. horiana dilaporkan menginfeksi pertanaman krisan di beberapa negara seperti Inggris (Baker 1967), Selandia Baru dan Afrika Selatan (Firman dan Martin 1968), serta Australia (Exley et al. 1993). P. horiana dilaporkan masuk ke Indonesia sekitar tahun 1990, diduga melalui bibit krisan impor yang tidak terdeteksi karena gejala penyakit belum muncul (Djatnika et al. 1994a). Fenomena demikian dapat terjadi pada patogen yang berinteraksi dengan tanaman yang menjadi inangnya. Selain melalui bibit, patogen dapat menular melalui angin, air, perlakuan pemeliharaan, pakaian pekerja, dan peralatan pertanian. Dengan cara demikian, penyakit karat putih menyebar dengan cepat ke lokasi pertanaman baru yang sebelumnya belum pernah ditanami krisan. Lebih kurang 28% bibit krisan yang diproduksi oleh petani telah terinfeksi oleh penyakit karat (Suhardi 2009a). Saat ini penyakit tersebut telah menyebar luas di seluruh sentra produksi krisan di Indonesia. Penggunaan benih sehat merupakan langkah strategis untuk mengurangi sumber inokulum penyakit karat putih.
PENCEGAHAN
Pencegahan serangan penyakit karat putih dapat dilakukan dengan cara-cara sebagaimana yang dilaporkan oleh Suhardi (2009b), yaitu 1) menggunakan
benih sehat dari penangkar benih yang kompeten, 2) mengenali gejala penyakit karat untuk deteksi dini, dan daun atau bagian yang terinfeksi dibuang dan dimusnahkan, 3) mengenalkan pentingnya penyakit karat dan cara pengendaliannya kepada petani krisan, 4) melakukan disinfeksi sepatu kebun para
pekerja dengan cara membuat kolam yang diisi desinfektan seperti Virkon S 1%
(1:100) atau chemprocide (DDAC) konsentrasi 15 ml/l, 5) mengganti desinfektan tiap minggu dan menggunakan test stripe untuk mempertahankan konsentrasinya, 6) membatasi jumlah pengunjung ke pertanaman krisan, dan bila perlu menggunakan pakaian satu kali pakai tiap saat, 7) mengendalikan serangga yang mungkin membawa propagul penyakit, dan 8) melakukan penyemprotan dengan fungisida secara rutin tiap minggu. Selanjutnya Karyatiningsih et al. (2008) melaporkan bahwa menghindari pelukaan akar saat penyiangan dapat mencegah masuknya patogen tular tanah (Fusarium sp. dan bakteri layu) yang dapat memengaruhi intensitas serangan penyakit karat putih.
UPAYA PENGENDALIAN PENYAKIT
Upaya pengendalian penyakit karat putih pada krisan perlu dilakukan secara terintegrasi, melalui penggabungan berbagai teknik pengendalian. Berdasarkan hasil penelitian di dalam dan luar negeri, penyakit karat putih pada krisan dapat dikendalikan melalui berbagai cara sebagai berikut.
ª     Penggunaan Varietas Toleran
Penggunaan varietas toleran merupakan langkah strategis untuk mengurangi sumber inokulum penyakit karat putih pada krisan. Dalam praktik budi daya krisan, petani biasanya menanam berbagai varietas. Varietas krisan yang beredar di Indonesia cukup banyak dan umumnya merupakan varietas introduksi, seperti Fiji, Ellen, Remi x Red, Discovery, Regata, Starlion, Lameet, Paso Double, Stroika, Viron, Puma White, Semifill,Catre, Shena, dan Sumrock (Komar et al. 2008). Ketahanan varietas krisan introduksibervariasi. Djatnika et al. (1994a) melaporkan bahwa varietas Puma White, Tiger, Yellow West, dan Rhino sangat resisten, sementara kultivar Puma Sunny tergolong rentan. Menurut Marwoto et al. (2009), krisan kultivar Puspita Nusantara tergolong toleran terhadap karat putih dan telah dilepas pada tahun 2003 sebagai varietas unggul. Sementara varietas krisan toleran lainnya (Puspa Kania, Dwina Kencana, Dwina Pelangi, Pasopati, Paras Ratu, Wastu Kania, Ratna Wisesa, dan Tiara Salila) telah dilepas pada Juli 2009.
ª     Perompesan Daun dan Penyiangan
Dalam budi daya krisan, petani umumnya melakukan perompesan daun-daun bawah, penyemprotan fungisida secara teratur, serta tindakan agronomis lainnya. Perompesan daun, terutama menjelang fase generatif, biasanya dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk mengurangi kelembapan di antara tanaman. Perompesan daun-daun bawah yang diikuti dengan penyemprotan fungisida dapat mengurangi intensitas serangan penyakit karat pada tanaman krisan (Djatnika 1992). Selanjutnya Suhardi et al. (2003) melaporkan bahwa perompesan daun dapat menurunkan intensitas serangan penyakit karat antara 3% dan 44%. Penyiangan secara manual maupun dengan herbisida hanya dapat mengurangi intensitas serangan pada awal pertumbuhan tanaman (Djatnika et al.1994b).
ª     Penggunaan Mikroba Antagonis
Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens adalah mikroba antagonis yang telah digunakan sebagai bahan aktif biopestisida yang ramah lingkungan. Hasil penelitian Hanudin et al. (2008a) menujukkan bahwa biopestisida ini efektif untuk mengendalikan penyakit karat putih pada krisan sebesar 4,89%, lebih efektif dibandingkan dengan fungisida yang biasa digunakan petani. Intensitasserangan penyakit karat putih pada tanaman krisan yang mendapat perlakuan biopestisida tersebut rata-rata sebesar 39,73%, lebih rendah dibanding yang disemprot pestisida sintetis yakni 41,77%. Keunggulan biopestisida ini ialah berbahan aktif mikroba antagonis B. subtilis BHN 4 dan P. fluorescens Pf 18 yang efektif mengendalikan penyakit tanaman dengan cara memproduksi antibiotik dan mengolonisasi jaringan tanaman sehingga terlindung dari infeksi patogen (Hsu et al. 1994). Berbagai jenis antibiotik diproduksi oleh P. fluorescens, seperti piuloteorin, oomisin, phenazine1-carboxylic acid atau 2,4-diphloroglucinol (Gurusidaiah et al. 1986). Produksi antibiotik ini telah dibuktikan sebagai faktor utama yang menghambat perkembangan populasi dan penyakit yang ditimbulkan oleh Gaeumannomyces tritici, Thielaviopsis basicola, dan Ralstonia solanacearum (Mulya et al.1996). Di samping menekan perkembangan populasi dan aktivitas patogen tanaman, P. fluorescens dapat menginduksi ketahanan tanaman terhadap penyakit. Mulya et al. (1996) melaporkan bahwa P. fluorescens strain G32R dapat menginduksi aktivitas enzim fenilalanin amoliase, enzim yang terlibat dalam ekspresi ketahanan tanaman tembakau. Keunggulan lain dari biopestisida ini ialah bahan pembawanya berupa parafin hidrokarbon yang berfungsi sebagai pengemulsi, perekat dan perata (sticker) sehingga bahan aktif biopestisida dapat menempel dengan kuat dan tidak mudah tercuci oleh air hujan untuk selanjutnya masuk ke dalam jaringan tanaman. Biopestisida ini telah mendapat sertifikat paten dari Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Hanudin et al. 2009). Di samping memiliki keunggulan, biopestisida ini masih mempunyai beberapa kelemahan. Salah satu kelemahannya ialah keefektifannya dalam mengendalikan penyakit tertentu belum stabil di setiap daerah, artinya biopestisida berbahan aktif BHN 4 dan Pf 18 hanya efektif mengendalikan isolat P. brassicae yang diperoleh dari satu daerah saja, tetapi tidak untuk daerah lain (Tabel 2). Tabel 2 menunjukkan bahwa aplikasi biopestisida di Cianjur pada tanaman sawi terbukti efektif mengendalikan penyakit akar bengkak yang disebabkan oleh P. brassicae. Hal ini ditunjukkan oleh rendahnya derajat serangan pada perlakuan tersebut. Derajat serangan pada perlakuan biopestisida dan kontrol masing-masing ialah 6,30% dan 48,80% dengan persentase penekanan 87,01%. Pada percobaan yang dilakukan di Sukabumi dan Pangalengan, Jawa Barat, perlakuan biopestisida hanya dapat menekan serangan P. brassicae berturutturut 12,14% dan 15,60% (Hanudin et al. 2008b). Ketidakstabilan keefektifan biopestisida pada percobaan yang dilakukan di Sukabumi dan Pangalengan diduga disebabkan oleh perbedaan ras fisiologis atau patogenisitas isolat P. brassicae. Ras fisiologis P. brassicae ditentukan berdasarkan respons patogen terhadap tanaman inang (Johnston 1968; Reyes et al. 1974). Djatnika (2011, komunikasi pribadi) menyebutkan bahwa di Indonesia, P. brassicae mempunyai tiga ras fisiologis yang masing-masing berbeda patogenisitasnya. Diduga isolat P. brassicae asal Sukabumi dan Pangalengan lebih patogenik dibandingkan dengan isolat yang berasal dari Cianjur. Di samping itu, diduga keefektifan bahan aktif biopestisida bersifat spesifik lokasi. Oleh karena itu, biopestisida tersebutharus disempurnakan. Penyempurnaan komposisi formulasi biopestisida telah dilakukan dengan menambahkan bahan aktif dan penggantian bahan pembawanya. Bahan aktif biopestisida sebelumnya adalah isolat B. subtilis BHN 4 dan P. fluorescens Pf 18 dengan bahan pembawanya parafin cair dan parafin hidrokarbon (Hanudin et al. 2008a). Tiga isolat bakteri antagonis yang digunakan sebagai bahan aktif biopestisida ialah Bacillus subtilis nomor isolat BaAkCs-3, Corynebacterium-2, dan P. fluorescens nomor isolat Pf-3 Sm, dengan bahan pembawanya ekstrak kascing ditambah molase dan gula pasir (Hanudin et al. 2010). Keunggulan B. subtilis dan P. fluorescens dalam mengendalikan beberapa patogen telah diuraikan sebelumnya. Keunggulan Corynebacterium yang digabungkan dengan kedua bakteri antagonis tersebut dan formulasinya yang baru dijelaskan sebagai berikut. Corynebacterium sp. adalah bakteri antagonis yang ditemukan hidup di permukaan daun padi di daerah Jatisari, Karawang, Jawa Barat. Bakteri ini berhasil diisolasi dan terbukti efektif mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh cendawan dan bakteri pada tanaman pangan dan hortikultura, seperti penyakit kresek pada padi dan penyakit layu serta bercak daun pada cabai dan kubiskubisan (BBPOPT 2007). Rismansyah (2010) melaporkan bahwa Corynebacterium sp. dapat menekan gejala penyakit bacterial red stripe (BRS) yang disebabkan oleh Pseudomonas sp. hingga 52% dan penyakit hawar daun bakteri (bacterial leaf blight/BLB) yang disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv. oryzae pada padi sebesar 28%. Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian di Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman Kabupaten Banyumas, selain dapat mengendalikan penyakit pada tanaman padi, Corynebacterium sp. juga dapat mengendalikan penyakit akar bengkak yang disebabkan oleh P. brassicae pada tanaman kubis-kubisan dan penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) pada tanaman pisang (Diperta Provinsi Jawa Tengah 2008). Formulasi Corynebacterium sp. Dalam bentuk cair telah dibuat oleh Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) dan Kelompok Tani Patih di Subang, Jawa Barat (BPTP Jawa Barat 2008). Biopestisida berbahan aktif B. subtilis, P. fluorescens, dan Corynebacterium yang diformulasikan dengan bahan pembawa ekstrak kentang, kascing, gula pasir, dan molase pada konsentrasi 0,3% dapat menekan intensitas serangan P. horiana  sebesar 38,49% dan mempertahankan hasil panen bunga krisan layak jual sebanyak 14,58% (Gambar 3). Pengendalian penyakit karat putih pada krisan dengan menggunakan tiga bakteri antagonis sebagai bahan aktif dan bahan organik sebagai pembawanya, mempunyai prospek yang cerah pada masa yang akan datang. Saat ini telah ada mitra dari pihak swasta yang berminat memproduksi biopestisida tersebut secara massal.
APLIKASI FUNGISIDA
Fungisida merupakan sarana produksi yang selalu digunakan dalam budi daya krisan. Penggunaan fungisida biasanya dilakukan melalui percobaan (trial and error) karena sampai sekarang belum ada satu pun fungisida yang terdaftar untuk pengendalian penyakit karat pada krisan.Namun, Bonde et al. (1995) melaporkan bahwa fungisida miklobutanil konsentrasi 100 mg/l yang diaplikasikan dengan cara mencelupkan setek pucuk krisan pada larutan fungisida tersebut sebelum tanam, efektif mengendalikan penyakit karat putih (Tabel 3). Selanjutnya Sutater et al. (1993) melaporkan bahwa fungisida yang banyak digunakan petani krisan di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, untuk menanggulangi penyakit karat ialah propineb dan mankozeb yang membutuhkan biaya sekitar 13% dari biaya produksi total. Selain fungisida tersebut, dua perusahaan eksportir bunga krisan menggunakan fungisida heksakonazol 50 SC dan benomil 50 WP dengan takaran lebih rendah. Menurut Suhardi et al. (2003), penyemprotan fungisida dapat menekan intensitas penyakit karat 20– 49% .


















LAMPIRAN 1.
SYARAT MUTU BUNGA POTONG KRISAN SEGAR









MACAM –MACAM  BUNGA KRISAN
Bunga Krisan Putih
Bunga Krisan Shamrock
Bunga Krisan Merah / NRA
Bunga Krisan Aster Putih

Bunga Krisan Aster Kuning
Bunga krisan Puma Putih
Bunga Krisan Aster Remix
Krisan Ungu
Krisan satu Lapis
Krisan Kecil
Krisan Pink

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar